Selasa, 03 Januari 2012

Pendidikan anak jalanan ( pondok cerdas katalonia )

Di dalam ruangan berukuran 4x4 meter ini, cita-cita anak-anak jalanan mulai dirajut. Pendidikan gratis yang diberikan oleh Pondok Cerdas Katalonia kepada lebih kurang 141 murid bertujuan untuk memberikan kesempatan mereka untuk mengenyam pendidikan.

Alasan mengapa Rospita Sinaga, S.Th membuka sebuah sekolah gratis yang diperuntukkan bagi anak-anak jalanan dan yatim piatu ini adalah kerinduannya yang besar untuk memberikan pendidikan kepada mereka yang memiliki kesempatan langka untuk mengenyamnya.
Dari Peron Hingga Musala
Perjalanan panjang sekolah gratis ini dimulai sekitar tahun 90-an. Saat itu Rospita Sinaga bersama almarhum Pendeta Lumix turun ke jalan untuk melakukan pelayanan. Menyelami kehidupan masyarakat miskin membuat hati Rospita tergugah, terlebih ketika melihat anak-anak yang seharusnya mengenyam bangku pendidikan, terpaksa membanting tulang membantu orang tua mencari nafkah, membuat Rospita bertekad untuk melakukan sesuatu untuk mereka.
Tekad itu diwujudkan Rospita setelah ia menyelesaikan studinya di Yogyakarta. Dengan mandiri, Rospita mulai melakukan kegiatan belajar darurat di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan. “Pertama kali, sekitar tahun 2003, saya mulai mengadakan belajar darurat dengan jumlah murid sekitar 35 anak,” ucap Rospita. Kenapa disebut belajar darurat? ”Karena kondisinya kami memang belajar di peron (ruang tunggu) jalur 4 Stasiun Manggarai,” jelas Rospita. Bahkan ia mengaku tidak jarang diterjang petugas Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) yang bekerja menertibkan peron, “Kalau ada Trantib saya diterjang. Tapi saya mengerti mereka juga menginginkan kebersihan, masa ruang tunggu dijadikan tempat belajar, makanya kami paham dan pergi.”
 Murid-murid Rospita adalah anak-anak jalanan yang biasanya berdagang, mengamen, menyapu kereta, ataupun anak-anak para pedagang stasiun. “Karena siang hari mereka bekerja, kami mulai belajar dari jam 8 sampai 10 malam,” tambah Rospita. Tidak dipungkiri, awalnya orangtua anak-anak jalanan ini pun sempat takut kalau Rospita ingin mengajarkan ajaran agama tertentu kepada anak-anak mereka. Tapi setelah melihat pelajaran yang diajarkan adalah matematika, bahasa Inggris, dan ilmu lainnya, lama kelamaan Rospita akhirnya diizinkan untuk menggunakan musala sebagai tempat belajar.
“Semenjak pindah ke musala, jumlah murid belajar darurat kian bertambah, hingga akhirnya tidak muat lagi untuk ditampung di musala,” ungkap anak ke-6 dari enam bersaudara ini. Oleh sebab itu, kegiatan belajar darurat akhirnya dipindahkan ke rumah seorang Ketua RT di Gang Reang (sebuah pemukiman pemulung di sekitar Stasiun Manggarai). “Semenjak dipindahkan ke daerah pemulung, kami mengganti kegiatan belajar darurat ini menjadi sekolah darurat,” jelas Rospita. Namun karena jumlah murid terus bertambah, sekolah darurat sempat pindah ke beberapa rumah warga, hingga akhirnya terpaksa tergusur setelah pemilu berlangsung, “Setelah pemilu kami pun tergusur, karena sudah tidak ada lagi rumah-rumah liar di sepanjang rel kereta api.”
Dukungan dari Wolrd Share
Semenjak tergusur, mimpi Rospita untuk mengubah nasib anak-anak jalanan sempat kandas di tengah jalan, tapi komitmen wanita kelahiran 3 Maret 1970 ini tidak pernah padam. Setelah bertemu dengan Won Eung Jung dari World Share, sebuah lembaga yang membantu anak-anak yatim piatu di 21 negara, mereka bersedia untuk membantu Rospita untuk membangun sebuah sekolah untuk anak jalanan.
“Ternyata sudah cukup lama World Share melihat kegiatan yang saya lakukan di Stasiun Manggarai (mengajar di peron -red). Oleh sebab itu setelah saya bertemu dengan Ms Won yang kagum dengan pelayanan kami, mereka pun akhirnya bersedia untuk menyediakan sebuah tempat belajar yang layak,” tambahnya.
Sebuah rumah dengan tiga buah ruangan berukuran 4x4 meter yang berada di Jalan Manggarai Utara VI, Blok F 10, Jakarta Selatan, kini menjadi tempat menuntut ilmu anak-anak Sekolah Darurat. “Bahkan ketika rumah tersebut tengah direnovasi, kami sudah memulai proses belajar- mengajar di sebuah taman yang tepat berada di depan rumah tersebut,” tutur Rospita, yang bahagia melihat besarnya antusias anak-anak setelah mendengar sekolah darurat yang berganti nama menjadi Pondok Cerdas Katalonia ini kembali dibuka.

Ket: - Inilah foto-foto kondisi saat Rospita masih mengajar (belajar darurat) anak-anak jalanan di peron Stasiun            Manggarai, Jakarta Selatan.        
Mendidik dengan Hati
Pondok Cerdas Katalonia dibagi menjadi tiga kelas: Taman Kanak-kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini  (PAUD) yang diperuntukkan bagi anak-anak jalanan, pengamen, pemulung, dan yatim piatu. Tempat ini juga membuka kelas bimbingan belajar yang diberikan kepada murid-murid umum yang membutuhkan bantuan dalam mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris. Proses belajar- mengajar dilakukan pada hari Senin hingga Jumat yang dibagi kedalam beberapa sesi, yakni TK dan PAUD pada pukul 10.00 – 10.30, serta bimbingan belajar pada pukul 14.00 - 15.40 dan pukul 18.00-20.00 WIB.
Hingga saat ini terdapat 20 orang murid yang terdaftar di TK, 20 murid di PAUD, dan 101 murid di bimbingan belajar. “Untuk TK dan PAUD, kami sengaja membatasi hanya 20 orang anak. Hal ini dikarenakan kami harus mempertimbangkan kualitas dibandingkan kuantitas mereka,” ungkap Rospita. Ia menjelaskan latar belakang anak-anak TK dan PAUD yang mayoritas adalah anak-anak jalanan membuat dirinya dan 11 guru pengajar lainnya harus melakukan pendekatan khusus kepada mereka. Setiap anak adalah pribadi yang unik. Walaupun anak-anak ini mengalami kesulitan dalam menangkap pelajaran, namun Rospita optimis kalau mereka memiliki kelebihan yang lain, dan inilah yang digali di Pondok Cerdas Katalonia. “Kami belajar melihat kekurangan dan kelebihan anak-anak dari kacamata berbeda. Merangkul anak-anak yang kurang mendapatkan kasih sayang, sehingga mereka bisa belajar untuk saling menghormati dan menyayangi. Seperti salah satu murid yang bernama Aris (9 tahun), dulu dia sempat takut bertemu dengan orang lain, tapi sekarang ia sudah bisa membaca dan menulis, dan yang paling penting adalah dia sudah berani untuk berkomunikasi dengan orang lain,” terang Rospita.
Ditanya bagaimana cara pondok ini menyeleksi para murid, Rospita menuturkan bahwa ia dan pengajar lainnya tidak ragu-ragu melakukan survei kepada calon anak muridnya, “Kami mendatangi rumah mereka, dan karena sekolah ini gratis, kami harus tepat sasaran.”
Dalam kegiatan belajar-mengajar, para pengajar tidak pernah lupa untuk selalu memberikan pelajaran budi pekerti sejak para murid mulai bergabung di Pondok Cerdas Katalonia. “Anak-anak ini tidak hanya cerdas secara intelektual tapi juga harus cerdas emosionalnya. Sehingga bukan orang-orang pintar yang akan menghancurkan bangsa ini, tapi justru merekalah yang akan mambangun bangsa ini. Mereka bisa berguna untuk orang lain, itu sudah membuat saya cukup bangga,” tegas Rospita yang berharap anak-anak didiknya bisa meneruskan perjuangannya kelak.
Selain ilmu pendidikan, setiap hari Jumat anak-anak juga bisa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler menari. “Bahkan rencananya tahun depan kami akan membuat kegiatan menjahit disini,” tambah Rospita. 

 Situasi belajar mengajar terasa hangat. Dengan jumlah murid tidak terlalu banyak, para pengajar bisa intens membimbing para murid dengan maksimal. Pondok Cerdas Katalonia memang tidak hanya mengejar kuantitas, tapi juga kualitas anak didik mereka.
Inilah Surga Saya
Untuk membiayai operasional pondok yang mencapai lebih kurang delapan juta rupiah per bulan, Rospita mengaku harus menyisihkan gajinya sebagai guru Bimbingan Konseling (BK). “Saya bekerja sebagai guru konseling di beberapa sekolah. Bersama Bapak Okky, kami saling membantu dalam memenuhi biaya operasional pondok,” tegasnya.
Maka tidak heran walaupun sudah bekerja beberapa tahun, ia mengaku belum mampu membeli kendaraan pribadi untuk dirinya sendiri. “Kalau teman-teman sudah punya motor atau mobil, saya tetap mencintai angkutan umum,” kelakarnya sambil tersenyum.
Selain dibantu oleh World Share dalam sarana pendidikan, Rospita juga didukung oleh beberapa mahasiswa dari perguruan tinggi Jakarta yang bersedia menjadi sukarelawan pengajar di Pondok Cerdas Katalonia. “Ini adalah hari pertama saya mengajar di Pondok Cerdas Katalonia. Saya melihat antusias anak-anak di sini untuk belajar sangat besar, dan itu semakin membuat saya bersemangat untuk berbagi ilmu dengan mereka,” ucap Sari, salah satu mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang mengajar TK dan PAUD.
Selain harus hidup hemat dan sibuk mengurus Pondok Cerdas Ceria yang berada dalam Yayasan Berkat Alfa Omega Indonesia Katalonia yang didirikannya, Rospita tidak pernah merasa menyesal telah mewujudkan mimpinya tersebut. “Ini adalah surga bagi saya,” tuturnya mantap. Ia menambahkan, bisa berbuat sesuatu untuk anak-anak ini merupakan kebahagiaan yang tidak bisa terbalaskan dengan apapun juga.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar